Infokop
Nomor 28 Tahun XXII, 2006
KAJI
ULANG PERAN KOPERASI DALAM MENUNJANG
KETAHANAN
PANGAN
Oleh
: Togap Tambunan, SE, M.Si
Dampak Kebijakan Alternatif Untuk Mendukung
Koperasi Dalam Menunjang Ketahanan Pangan
Untuk
pemecahan masalah penyaluran pupuk dan pengadaan beras secara menyeluruh
dilakukan simulasi terhadap lima skenario alternatif. Masingmasing : (1)
Kenaikan harga pupuk level petani 5 % dan kenaikan harga gabah 10 %; (2)
Kenaikan penggunaan pupuk petani sebesar 25 %, kenaikan harga gabah dan jumlah
pembelian gabah koperasi masing-masing sebesar 10 %; (3) Penurunan penggunaan
pupuk petani dan harga gabah sebesar 10 %; (4) Kenaikan kapasitas prasarana dan
sarana produksi beras koperasi : RMU, gudang dan lantai jemur, dan peralatan
penunjang sebesar 25 %; dan (5) Kenaikan aset dan volume usaha koperasi sebesar
10 %.
Skenario-skenario di atas disusun berdasarkan peubah peubah indikator kebijakan yang signifikan mempengaruhi model pada masing-masing propinsi dan memiliki respon kuat. Pada keseluruhan model, peubah-peubah tersebut adalah harga pupuk tingkat petani, harga gabah, penggunaan pupuk petani, jumlah pembelian gabah koperasi, kapasitas RMU, gudang dan lantai jemur koperasi dan peralatan penunjang, serta aset dan volume usaha koperasi. Skenario kapasitas RMU, gudang dan lantai jemur dan peralatan penunjang koperasi dimaksudkan untuk menunjang pengembangan sistem bank padi yang sedang dijalankan koperasi. Hasil simulasi skenario kenaikan harga pupuk dan harga gabah pada Propinsi Sumatera Utara, Jawa Barat dan Jawa Tengah memberikan dampak yang relatif sama. Kenaikan harga pupuk 5 % diikuti kenaikan harga gabah 10 % berdampak meningkatkan peubah-peubah petani dan kinerja koperasi tetapi menurunkan pembelian gabah, produksi beras dan kapasitas produksi beras koperasi. Sementara pada Propinsi Sumatera Barat, Jawa Timur, Bali dan NTB, kenaikan harga pupuk dan kenaikan harga gabah memberikan dampak negatif kepada para petani.
Pada dasarnya di Propinsi Sumatera Utara, Jawa Barat dan Jawa Tengah harga pupuk dan harga gabah dapat dinaikan. Sementara pada keempat propinsi lainnya kenaikan harga gabah menguntungkan bagi petani, tetapi kenaikan harga pupuk sebesar 5 % saja sudah merugikan petani. Skenario kenaikan penggunaan pupuk oleh petani sebesar 25 % diikuti harga gabah dan pembelian gabah oleh koperasi sebesar 10 % ketiganya berdampak positif secara umum pada semua peubah model. Karena itu skenario ini potensial untuk diterapkan. Sebaliknya skenario yang berlawanan yakni penurunan terhadap penggunaan pupuk dan harga gabah memberikan dampak serius menurunkan produksi gabah dan pendapatan para petani serta kinerja koperasi. Skenario ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa berbagai sebab dan alasan bahkan kebijakan yang diambil pemerintah yang menyebabkan penurunan penggunaan pupuk pada petani, pada dasarnya merugikan para petani. Skenario peningkatan kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi dimaksudkan untuk mengoperasikan kembali prasarana dan sarana koperasi yang telah menganggur akibat kebijakan pupuk dan beras yang telah dijalankan. Skenario tersebut sekaligus meningkatkan kemampuan koperasi dalam penanganan pengadaan pangan. Skenario ini juga dimaksudkan untuk mendukung sistem bank padi yang sedang dijalankan koperasi. Jika kapasitas RMU koperasi yang ada sekarang ditingkatkan, juga gudang dan lantai jemur dan peralatan pendukung lainnya diperluas maka menjamin peningkatan pembelian gabah, produksi dan kapasitas produksi beras koperasi. Juga skenario ini memberikan dampak positif pada kinerja koperasi. Jika kemudian dilanjutkan dengan kebijakan untuk mendorong peningkatan nilai aset dan volume usaha koperasi maka akan memberikan hasil yang cukup besar bagi peningkatan kinerja koperasi. Untuk pengembangan sistem bank padi ke depan maka gabungan beberapa skenario alternatif di atas merupakan kesatuan kebijakan yang penting. Gabungan skenario kebijakan peningkatan penggunaan pupuk petani secara langsung, kebijakan menaikanharga gabah, pemberian kredit atau modal kepada koperasi untuk pembelian gabah dan kenaikan kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi serta kebijakan mendorong kenaikan aset dan volume usaha koperasi adalah kesatuan kebijakan yang menunjang pengembangan system bank padi. Lebih dari itu, kebijakan alternatif tersebut secara bersama-sama akan menjamin produksi dan pendapatan para petani maupun produksi beras yang dihasilkan koperasi.
Skenario-skenario di atas disusun berdasarkan peubah peubah indikator kebijakan yang signifikan mempengaruhi model pada masing-masing propinsi dan memiliki respon kuat. Pada keseluruhan model, peubah-peubah tersebut adalah harga pupuk tingkat petani, harga gabah, penggunaan pupuk petani, jumlah pembelian gabah koperasi, kapasitas RMU, gudang dan lantai jemur koperasi dan peralatan penunjang, serta aset dan volume usaha koperasi. Skenario kapasitas RMU, gudang dan lantai jemur dan peralatan penunjang koperasi dimaksudkan untuk menunjang pengembangan sistem bank padi yang sedang dijalankan koperasi. Hasil simulasi skenario kenaikan harga pupuk dan harga gabah pada Propinsi Sumatera Utara, Jawa Barat dan Jawa Tengah memberikan dampak yang relatif sama. Kenaikan harga pupuk 5 % diikuti kenaikan harga gabah 10 % berdampak meningkatkan peubah-peubah petani dan kinerja koperasi tetapi menurunkan pembelian gabah, produksi beras dan kapasitas produksi beras koperasi. Sementara pada Propinsi Sumatera Barat, Jawa Timur, Bali dan NTB, kenaikan harga pupuk dan kenaikan harga gabah memberikan dampak negatif kepada para petani.
Pada dasarnya di Propinsi Sumatera Utara, Jawa Barat dan Jawa Tengah harga pupuk dan harga gabah dapat dinaikan. Sementara pada keempat propinsi lainnya kenaikan harga gabah menguntungkan bagi petani, tetapi kenaikan harga pupuk sebesar 5 % saja sudah merugikan petani. Skenario kenaikan penggunaan pupuk oleh petani sebesar 25 % diikuti harga gabah dan pembelian gabah oleh koperasi sebesar 10 % ketiganya berdampak positif secara umum pada semua peubah model. Karena itu skenario ini potensial untuk diterapkan. Sebaliknya skenario yang berlawanan yakni penurunan terhadap penggunaan pupuk dan harga gabah memberikan dampak serius menurunkan produksi gabah dan pendapatan para petani serta kinerja koperasi. Skenario ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa berbagai sebab dan alasan bahkan kebijakan yang diambil pemerintah yang menyebabkan penurunan penggunaan pupuk pada petani, pada dasarnya merugikan para petani. Skenario peningkatan kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi dimaksudkan untuk mengoperasikan kembali prasarana dan sarana koperasi yang telah menganggur akibat kebijakan pupuk dan beras yang telah dijalankan. Skenario tersebut sekaligus meningkatkan kemampuan koperasi dalam penanganan pengadaan pangan. Skenario ini juga dimaksudkan untuk mendukung sistem bank padi yang sedang dijalankan koperasi. Jika kapasitas RMU koperasi yang ada sekarang ditingkatkan, juga gudang dan lantai jemur dan peralatan pendukung lainnya diperluas maka menjamin peningkatan pembelian gabah, produksi dan kapasitas produksi beras koperasi. Juga skenario ini memberikan dampak positif pada kinerja koperasi. Jika kemudian dilanjutkan dengan kebijakan untuk mendorong peningkatan nilai aset dan volume usaha koperasi maka akan memberikan hasil yang cukup besar bagi peningkatan kinerja koperasi. Untuk pengembangan sistem bank padi ke depan maka gabungan beberapa skenario alternatif di atas merupakan kesatuan kebijakan yang penting. Gabungan skenario kebijakan peningkatan penggunaan pupuk petani secara langsung, kebijakan menaikanharga gabah, pemberian kredit atau modal kepada koperasi untuk pembelian gabah dan kenaikan kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi serta kebijakan mendorong kenaikan aset dan volume usaha koperasi adalah kesatuan kebijakan yang menunjang pengembangan system bank padi. Lebih dari itu, kebijakan alternatif tersebut secara bersama-sama akan menjamin produksi dan pendapatan para petani maupun produksi beras yang dihasilkan koperasi.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil kaji ulang peran koperasi dalam menunjang ketahanan pangan dengan fokus
pada masalah distribusi pupuk dan pengadaan pagan/ beras pada tujuh daerah
survei masingmasing Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa
Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah, diambil kesimpulan sesuai
tujuan penelitian.
Kesimpulan tentang
efektif tidaknya kecenderungan para distributor dan kebijakan distribusi pupuk
dan pengadaan pengecer pupuk terutama pengecer beras yang telah dijalankan pemerintah
swasta menggunakan signal harga adalah sebagai berikut :sebagai indikator dalam
menyalurkan pupuk ke petani.
1. Kebijakan distribusi pupuk saat ini puk adalah komoditi publik yang telah memberikan dampak yang disubsidi pemerintah guna meningpositif yakni efektif pada penyaluran katkan produksi pangan petani pupuk level propinsi hingga ke dalam rangka pengamanan pangan kabupaten. Analisis faktor-faktor nasional. Secara tegas perilaku seyang mempengaruhi menunjukkan perti ini bertentangan dengan jiwa distribusi pupuk dari level propinsi kebijakan distribusi pupuk pemerinhingga ke kabupaten pada semua tahun. propinsi sampel relatif berlangsung
1. Kebijakan distribusi pupuk saat ini puk adalah komoditi publik yang telah memberikan dampak yang disubsidi pemerintah guna meningpositif yakni efektif pada penyaluran katkan produksi pangan petani pupuk level propinsi hingga ke dalam rangka pengamanan pangan kabupaten. Analisis faktor-faktor nasional. Secara tegas perilaku seyang mempengaruhi menunjukkan perti ini bertentangan dengan jiwa distribusi pupuk dari level propinsi kebijakan distribusi pupuk pemerinhingga ke kabupaten pada semua tahun. propinsi sampel relatif berlangsung
2. Hasil analisis
faktor yang mempengaruhi sampel penelitian mengalami pengaruhi menunjukkan terdapat
penurunan kapasitas produksi atau mereka beroperasi di bawah kapasitas
terpasang. Jika semula unit-unit koperasi yang telah menjalankan usaha-usaha
pengadaan pangan/beras adalah bahagian dari total kapasitas terpasang produksi
pangan nasional maka penurunan kapasitas koperasi karena perubahan kebijakan
sekarang telah berdampak menurunkan kapasitas produksi pangan (gabah/beras)
nasional.
3. Hasil analisis faktor yang mempengaruhi normal. Namun pada level pengecer, pengaruhi juga menunjukkan unitmuncul berbagai kegagalan antara unit koperasi yang telah men-lain pupuk langka di pasar ketika jalankan usaha pengadaan pangan petani membutuhkannya dan harga pada waktu lalu mengalami riil pupuk di pasar secara umum kemundurun signifikan. Unit-unit berada di atas HET. koperasi pada 4 dari 7 propinsi.
3. Hasil analisis faktor yang mempengaruhi normal. Namun pada level pengecer, pengaruhi juga menunjukkan unitmuncul berbagai kegagalan antara unit koperasi yang telah men-lain pupuk langka di pasar ketika jalankan usaha pengadaan pangan petani membutuhkannya dan harga pada waktu lalu mengalami riil pupuk di pasar secara umum kemundurun signifikan. Unit-unit berada di atas HET. koperasi pada 4 dari 7 propinsi.
4. Hasil-hasil simulasi
dua skenario pada Tabel 1 dan 2 menunjukkan, dampak yang ditimbulkan akibat
kebijakan pemerintah melepaskan distribusi pupuk dan pengadaan beras ke pasar
adalah secara umum menekan penggunaan pupuk petani. Akibatnya produksi gabah
dan pendapatan petani menurun, yang selanjutnya menurunkan produksi beras dan
juga kapasitas produksi beras koperasi, dan menurunkan kinerja usaha-usaha
koperasi.
5. Kebijakan distribusi
pupuk dan pengadaan beras yang sedang dijalankan sekarang tidak efektif
menciptakan kemampuan produksi pangan (beras) dalam negeri. Kesimpulan tentang
kebijakan alternatif antara lain :
1. Harga gabah dapat
dinaikan sebesar 10 % dan harga pupuk sebesar 5 %.
2. Untuk menunjang
pengadaan pangan/beras koperasi dan pengembangan sistem bank padi yang telah
dijalankan koperasi, paket kebijakan yang mendukung adalah peningkatan
penggunaan pupuk secara langsung pada petani (25 %), peningkatan harga gabah 10
%, peningkatan kredit atau modal kepada koperasi untuk pembelian gabah 10 %,
peningkatan kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi 25 % serta
peningkatan kenaikan aset dan volume usaha koperasi 10 %.
Saran
Sesuai
hasil simulasi, kebijakan distribusi pupuk dan pengadaan pangan/ beras yang ada
sekarang tidak efektif mencapai tujuannya maka kebijakan tersebut perlu
dikembalikan kepada kebijakan memerankan koperasi secara penuh dalam distribusi
pupuk dan pengadaan pangan/beras. Hal ini didukung oleh beberapa faktor
diantaranya koperasi sejak lama telah memiliki sarana dan prasarana pendukung
yang memadai. Juga koperasi sebagai lembaga ekonomi kerakyatan memiliki
hubungan dan kemampuan mengorganisir petani dan anggota koperasi yang mewadahi
mereka sehingga mempermudah pengawasan dan pendistribusian pupuk hingga ke
tangan petani. Melalui koperasi, upaya-upaya untuk mendorong peningkatan
produksi gabah/beras dalam menunjang ketahanan pangan dapat terlaksana.
BAB
IV DAFTAR PUSTAKA
Ø
Dewan
Ketahanan Pangan. 2002. Kebijakan Umum Pemantapan Pangan Nasional.
Dewan Ketahanan Pangan, Jakarta.
Ø
Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai, 2006. Ekspor Ilegal Pupuk Bersubsidi. Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai, Departemen
Keuangan Republik Indonesia, Jakarta.
Ø
Donald
Ary, L. Ch. Yacobs and Razavich. 1979. Introduction in Research Education 2nd
Editon. Hott Rinehart and Winston,
Sydney.
Ø
Earl
R. Babie. Survey Research Methods. 1973. Belmont, Wadsworth Publication Co.,
California.
Ø
Frank
Ellis, 1992. Agricultural Policies in Developing Countries. Cambridge
University
Press. Cambridge.
Ø
Intriligator.
M, Bodkin. R, Hsiao. C. 1996. Econometric Models, Techniques, and
Applications. Second Edition.
Prentice-Hall International, Inc. USA.
Ø
Just.R.E,
Hueth.D.L, and Schmit. A. 1982. Applied Welfare Economics and Public
Policy. Prentice-Hall, Inc., USA.
Ø
Kariyasa
K. dan Yusdja Y. 2005. Evaluasi Kebijakan Sistem Distribusi Pupuk Urea di
Indonesia. Pusat Analisis Sosial
Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor.
Ø
Kementerian
Koperasi dan UMK, 2005. Konsep Usulan Proposal Penyempurnaan
Tataniaga Pupuk Bersubsidi.
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI,Jakarta
Ø
Koutsoyiannis,
A. 1977. Theory of Econometrics: An Introductory Exposition of
Econometic Methods. Second Edition.
The MacMillan Press Ltd, London.
Ø
Media
Industri dan Perdagangan, 2006. Pupuk, Komoditas Strategis yang Harus
Diamankan. Media Industri dan
Perdagangan, Jakarta.
NAMA : ANITA SILVI
YANTI (20211935)
KELAS
/ TAHUN : 2EB09 / 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar