Infokop
Nomor 28 Tahun XXII, 2006
KAJI
ULANG PERAN KOPERASI DALAM MENUNJANG
KETAHANAN
PANGAN
Oleh
: Togap Tambunan, SE, M.Si
III. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi distribusi dan Pengadaan pangan (Beras)
Berdasarkan
analisis, ditemukan beberapa faktor yang berpengaruh menurunkan kemampuan
penyediaan pupuk pada koperasi adalah (1) kuota penyaluran pupuk koperasi yang
hanya sekitar 30 %, (2) monopoli penyaluran pupuk oleh swasta, (3) kelangkaan
pupuk yang disebabkan oleh ekspor pupuk ilegal ke luar negeri, pengalihan
penjulan pupuk ke perusahaan perkebunan besar atau dihilangkan untuk tujuan
tertentu sehingga menyulitkan koperasi menyediakan pupuk dalam jumlah yang
memadai bagi petani, (4) jumlah permintaan pupuk petani khususnya di Pulau Jawa
yang terus meningkat, (5) harga pupuk yang melebihi Harga Eceran Tertinggi
(HET) menciptakan kendala pembiayaan bagi koperasi untuk mensuplai pupuk kepada
petani.
Sedangkan faktor-faktor
yang mempengaruhi kemampuan koperasi dalam pengadaan pangan/beras adalah : (1)
jumlah produksi dan penjualan gabah petani yang menurun akibat penggunaan pupuk
di bawah kebutuhan normal, (2) harga jual gabah yang berfluktuasi, (3) jumlah
pembelian gabah koperasi yang menurun akibat permodalan yang terbatas, (4)
produksi dan kapasitas produksi beras koperasi yang menurun akibat peralatan
pendukung yang beroperasi di bawah kapasitas normal (menganggur), dan (5)
kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi seperti RMU, gudang dan
lantai jemur, peralatan penunjang lainnya yang telah mengalami penurunan fisik
karena tidak beroperasi secara normal atau tidak terpakai.
3.1 Efektifitas
Kebijakan Penyaluran Pupuk dan Pengadaan Beras
A. Evaluasi Efektifitas Kebijakan Pupuk
Hasil
simulasi pada masing-masing propinsi sampel dapat dilihat, Jika peran swasta
dalam kebijakan pupuk ditingkatkan 25 % akan berdampak meningkatkan pengadaan
pupuk level propinsi dan kabupaten pada semua propinsi sampel. Akan tetapi
kenaikan peran swasta tersebut memberikan dampak negatif terhadap pengadaan
beras koperasi yakni menurunkan jumlah pembelian gabah koperasi, juga
menurunkan jumlah produksi beras dan kapasitas produksi beras koperasi pada
semua propinsi sampel. Dampak negatif juga ditimbulkan pada kinerja koperasi
semua propinsi sampel yakni menurunkan volume usaha, SHU dan
indikator-indikator produktivitas koperasi. Dampak yang ditimbulkan pada petani
adalah merugikan para petani anggota koperasi semua propinsi sampel kecuali
Jawa Tengah. Kerugian yang dialami petani disini adalah dalam hal penurunan
penggunaan pupuk, penurunan jumlah produksi gabah, penurunan jumlah penjualan
gabah dan tingkat pendapatan petani. Dampak kerugian yang sama juga terjadi
bagi petani non-anggota koperasi khsusnya pada Propinsi Sumatera Barat dan Nusa
Tenggara Barat.
Berdasarkan
hasil simulasi tersebut dapat dilihat bahwa kebijakan distribusi pupuk yang
lebih memerankan pihak swasta secara parmanen merugikan para pelaku utama
produsen beras yakni petani dan pihak koperasi di dalam pengadaan pangan/beras.
Karena itu dapat dikatakan bahwa kebijakan distribusi pupuk yang ada sekarang
tidak efektif mencapai tujuannya yakni untuk mendukung ketahanan pangan
nasional.
B. Evaluasi Efektifitas
Kebijakan Beras
Hasil
simulasi skenario kebijakan beras pada masing-masing propinsi sampel dapat
dilihat pada koperasi tidak lagi diberikan tanggung jawab penuh dalam pengadaan
pangan dan tidak ada lagi kredit untuk pengadaan pangan, koperasi mengalami
penurunan dalam pembelian gabah. Penurunan ini disebabkan oleh kendala
permodalan koperasi yang lemah maupun pengurangan kegiatan pengadaan pangan
pada sebagian koperasi. Penurunan pembelian gabah koperasi berdampak menurunkan
produksi beras koperasi pada semua propinsi sampel antara 11.82 % hingga 30.72
%. Juga kapasitas produksi beras koperasi pada semua propinsi sampel mengalami
penurunan antara 5.87 % hingga 45.93 % , Dampak di atas menunjukkan bahwa
koperasi telah mengalami penurunan signifikan dalam produksi maupun kapasitas
produksi berasnya. Secara nasional, kemampuan dalam negeri untuk menciptakan
ketahanan pangan sesungguhnya terbangun oleh semua komponen pelaku produksi
pangan nasional. Dalam hal ini produksi dan kapasitas produksi pagan/beras
koperasi yang sebelumnya telah terbangun adalah bagian dari kapasitas produksi
pangan nasional yang telah ada. Karena itu penurunan sebagian kapasitas pangan
nasional yang telah ada merupakan suatu penurunan kemampuan ketahanan pangan
secara terstruktur di dalam negeri.Pada sisi lain koperasi mewadahi sebagian
besar petani dimana koperasi menjadi pasar bagi gabah para petani. Karena itu
penurunan pembelian gabahkoperasi menciptakan kesulitan pasar bagi para petani.
Hasil penelitian lapang menunjukkan sebagian petani menempuh cara tebas dalam
menjual gabahnya yaitu gabah dijual kepada tengkulak dalam keadaan masih
sebagai tanaman padi di sawah. Cara ini ditempuh untuk menghindari biaya panen
yang cukup besar maupun karena alasan-alasan lainnya. Jika harga gabah terus
berfluktuasi dan petani tidak menjamin kualitas gabahnya maka posisi tawar
mereka tetap lemah yang berarti petani akan tetap mengalami kerugian. Hasil
survei lapangan menunjukkan petani tidak menjual gabahnya kepada Perum Bulog
setempat. Karena itu petani akan tetap menghadapi para tengkulak dengan posisi
tawar yang lemah. Berdasarkan hasil simulasi dan pembahasan di atas dapat
dikatakan bahwa kebijakan perberasan yang ada sekarang tidak efektif
meningkatkan kapasitas produksi beras nasional. Sebaliknya kebijakan tersebut
mengurangi sebagian kapasitas produksi beras yang telah dimiliki koperasi
sebelumnya.
NAMA : ANITA SILVI YANTI
NPM / KELAS :
20211935 / 2EB09
TAHUN : 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar